31 July, 2006

KEKERASAN BERSENJATA DI PALU, PERLUASAN ZONA KONFLIK?

Poso mungkin sudah sempit bagi konflik dan kekerasan bersenjata yang sudah berkecamuk selama tujuh tahun. Kekerasan sedang mengincar ladang baru untuk menyemai konflik. Palu sebagai ibukota provinsi Sulawesi Tengah, sepertinya lahan subur untuk menanam horor tersebut. Bagaimana tidak, upaya untuk memprovokasi warga Palu telah berlangsung sejak semester pertama 2001. Sasarannya adalah simbol-simbol kelompok tertentu. Tujuannya, tentu saja untuk menciptakan psikologi teror dan rasa tidak aman bagi warga kota....
Tengok saja aksi peledakan bom pada empat gereja (GKI Sulsel, GPID, Gereja Advent dan GMKI) pada 31 Desember 2001. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Dari sini, teror dan ancaman bom terus terjadi melalui telepon gelap. Kantor Gubernur Sulteng di Jalan Sam Ratulangi tak luput dari teror bom (30/7/02). Karuan saja, pegawai yang saat itu berada dalam gedung berhamburan ke luar. Tim Jihandak ternyata tak menemukan apa-apa. Tercatat empat lima kali ancaman serupa diterima kantor Gubernur (10/9, 27/9, 15/10 dan 17/10) masing-masing di tahun 2002.

Bandara Mutiara Palu juga paling sering diganggu ancaman bom yakni sebanyak empat kali (3, 18, 27 dan 30 Juli 2002), menyusul kemudian kompleks pertokoan dan rumah makan (26/8, 19/9, 23/9). Sekolah yang pernah mendapat ancaman bom yakni SMK Negeri 3 (23/9), TK Aisyiah Bustanul Atfal (23/9), dan SLTP 3 Jalan Kemiri (30/9). Selain itu kompleks perumahan Bumi Anggur (3/9) dan bank BCA Jalan Emmy Saelan (15/10). Demikian pula yang terjadi di kantor BKPMD Sulteng yang terletak di Jalan Pramuka Palu (1/8/02) (Pokja RKP 2002).

Satu bulan kemudian (18/9/02), sekolah Alkitab Koinonia di Jalan Tanjung Manimbaya diporakporandakan sebuah bom yang meledak di halaman gedung tersebut. Tadues (25), Arman (25) dan seorang anggota polisi yang berjaga mengalami cedera.Kinerja aparat kepolisian untuk menangkap pelaku pengeboman tersebut tidak menunjukkan kemajuan berarti hingga pada 19 November 2002, bom kembali menyalak di Sekolah Alkitab di Tanjung Manimbaya. Lagi-lagi aparat keamanan kesulitan mengungkap pelaku dan jaringannya.

Keesokan harinya, ditemukan tiga buah bom pada tiga tempat berbeda. Masing-masing di halaman rumah Sakit Bala Keselamatan di Jalan Woodward, bom kedua di jalan Cendrawasih dan bom ketiga di persimpangan jalan Tanjung Harapan dan jalan Tururuka. Ketiga bom ini ditemukan warga kemudian dijinakkan oleh Tim Jihandak Polda Sulteng.

Tempat hiburan tak luput juga dari sasaran teror dan peledakan bom. Rabu malam, 17 Juli 2002, sebuah bom yang tergolong low explosive meledak di Kafe Ratu Muda di Pantai Talise, yang suaranya menggema dalam radius 1 Km. Sebuah bom lagi berhasil dijinakkan oleh Tim Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) Brimob Polda Sulteng. Dua pekan berselang, sebuah bom yang terbungkus dengan kertas koran ditemukan oleh seorang karyawan Karaoke Bulava di Jalan Moh. Hatta, sekitar pukul 01:30 dinihari (29/07). Beruntung dewi fortuna masih berpihak pada warga Palu, sebab dua jam kemudian bom itu berhasil dijinakkan oleh Tim Jihandak Brimob Polda Sulteng (Pokja RKP 2002).

Memasuki tahun 2003, hampir tidak ada aksi kekerasan bom dan senjata api. Namun memasuki tahun 2004, kekerasan dengan menggunakan senjata api kembali berlangsung. Korbannya Ferry Silalahi, SH, seorang jaksa di Kejaksaan Tinggi Palu (26/5/04). Ferry yang saat itu mengendarai mobil dengan nomor polisi B 7707 AN baru saja berkunjung ke rumah rekannya (Thomas Ihalaw SH). Saat melewati lorong Swadaya, Ferry diserang sekelompok orang yang menggunakan senjata api.

Sebagai catatan untuk kasus ini, Polisi kemudian menahan Hance Malewa (26) dan Farid Pondungge (24) yang hingga saat ini kedua terdakwa belum memiliki kepastian hukum. Menurut Effendi, Hakim ketua dalam kasus penembakan Jaksa Ferry pada salah satu media lokal (16/3/06) berkaitan dengan perpanjangan penahanan kedua tersangka selama 30 hari lagi karena kepentingan pemeriksaan. Masih kata Efendy, jika dikatakan para terdakwa terlibat kasus teroris maka unsur-unsur dalam dakwaan tersebut terlihat masih sangat kabur dan hingga sekarang ini sangat sulit dibuktikan.

“Demikian juga jika mereka dinyatakan bersalah memiliki senjata api tapi sampai sekarang bukti senjata api tersebut tidak bisa diperlihatkan dalam sidang,” jelas Effendi seperti dikutip dari harian itu.

Dua bulan berselang, (18 Juli 2004), kembali sekelompok orang menyerang gereja Effatha di Jalan Banteng Palu. Aksi brutal ini menewaskan Pendeta Susianty Tinule dan Desriyani serta mencederai tiga orang jemaat lainnya, Kris Mediyanto, Farid Mehingko dan Listian Ampo. Lagi-lagi aparat keamanan dibuat pusing tujuh keliling. Presiden Megawati saat itu secara khusus mengucapkan belasungkawa dan meminta aparat keamanan untuk lebih serius mengungkap serangkaian aksi teror di Palu.

Namun seperti lagu klasik, intel melayu selalu keteter menghadapi aksi-aksi teror yang terencana dan sistematis. Terbukti, pada 12 Desember 2004, penembakan dan pengeboman kembali berlangsung secara mulus di Gereja Immanuel jalan Mesjid Raya dan Gereja Anugerah di jalan Tanjung Manimbaya. Peristiwa yang berlangsung di malam hari ini mencederai Rada Krisna Sane (40), Nofri dan Binti Jaya (60).

Awal tahun baru 2005, jemaat Gereja Katolik di Jalan Pattimura Palu dibuat panik oleh penelepon yang mengancam akan membom gereja itu. Suasana kota Palu kembali mencekam pascapenembakan Pudji Sulaksono dosen pertanian Untad dan isterinya Novlin Palinggi dalam perjalanan pulang dari ibadah kebaktian di kompleks lingkungan industri kecil (LIK) Kelurahan Tondo Kota Palu (19/11/2005). Puji menderita luka tembak di bahu kiri, sedang isterinya Novlin tertembak di lambung kiri.

Penembak misterius yang diperkirakan berjumlah dua orang menggunakan sepeda motor jenis bebek. Merujuk pada situasi dan latar belakang korban, bisa disimpulkan: pelaku sudah memilih sasarannya terlebih dahulu.

Aparat keamanan dengan senjata api yang hilir mudik dalam kota kota Palu pada siang dan malam hari semakin mempertegas suasana mencekam. Belum lagi dengan operasi kendaraan bermotor (sweeping) yang terjadi di sejumlah tempat dalam kota Palu. Jalan-jalan pada malam hari terlihat lebih lengang.

Tahun 2005 ini ditutup dengan ledakan bom yang cukup dahsyat di pasar daging babi di kawasan Maesa Palu. Dalam insiden itu, tercatat delapan orang tewas dan 54 lainnya mengalami luka berat dan ringan. Peristiwa ini kembali menjelaskan betapa lemahnya kerja intelejen karena tidak mampu mendeteksi aksi kekerasan tersebut. Penjagaan ekstra ketat yang dilakukan oleh aparat keamanan pada setiap rumah ibadah telah mengalihkan target pelaku kekerasan.

Namun lagi-lagi simbol kelompok tertentu yang dijadikan sasaran. Aksi bom ini juga telah menghentak kesadaran publik betapa rentannya kota Palu dari aksi-aksi terorisme. Namun sejauh ini, aparat keamanan seperti jalan di tempat mengungkap pelaku dan jaringan kekerasan itu.

Koopskam jalan keluar?

Insiden Bom Maesa seperti akan menjadi titik kulminasi dari rentetan seluruh kekerasan bersenjata di Sulawesi Tengah. Pemerintah pun segera membentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan Sulteng (Koopskam) untuk memulihkan situasi keamanan di Palu menyusul aksi peledakan bom di pasar babi Maesa Palu. "Koopskam ini akan dipimpin oleh perwira tinggi Polri dan akan bertugas maksimal enam bulan," kata Kepala Desk Poso Kementerian Polhukkam, Demak Lubis, usai rapat pembentukan Koopkam di Jakarta (10/1/06).

Ia mengatakan, Koopskam ini terdiri atas unsur-unsur Polri sebagai "lead sector" TNI, komunitas intelijen, masyarakat sipil, termasuk aparat Pemda untuk menuntaskan seluruh persoalan dan konflik di Sulawesi, khususnya di Palu dan Poso secara komprehensif.

"Terkait hal itu, Polri akan menambah personelnya sebanyak 1.100 personel untuk mendukung aparat kepolisian setempat," kata Demak Lubis. Sedangkan untuk TNI, jumlahnya akan ditentukan atas dasar permintaan komandan Koopskam sesuai perkembangan situasi yang terjadi.
Selain dibentuk Koopskam, pemerintah juga membentuk Satgas Palu yang bertugas pada upaya pengamanan dan tukar menukar informasi intelijen dalam rangka deteksi dini. Aparat yang tergabung dalam Koopskam ini akan diturunkan hingga ke desa-desa untuk menjamin keamanan masyarakat setempat.

Terkait dengan Bom Maesa ini, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid meminta presiden SBY untuk mengevaluasi kinerja Badan Intelejen Nasional (BIN) secara profesional dan mendalam atas kinerja aparat intelejen di Sulteng. "Banyak kejadian pemboman di wilayah Sulawesi Tengah yang sama sekali tidak dapat diantisipasi," kata Hidayat Nur Wahid seusai Tabligh Akbar menjelang pergantian tahun di Jakarta Islamic Center (Antara, 30/12/05).

Koopskam yang baru seumur jagung seakan ditelanjangi dengan aksi penembakan yang kembali terjadi di Palu. Sekelompok orang bersenjata menyerang sebuah toko emas (10/2). William (60), pemilik Toko Agung di Jalan Monginsidi, menderita luka tembak di bagian kepala dan leher. Akibat aksi penyerangan bersenjata ini, sejumlah toko di kawasan Pusat Perbelanjaan Monginsidi yang dekat dengan tempat kejadian perkara (TKP) segera menghentikan kegiatan dan menutup pintu rapat-rapat.

Belum diketahui secara pasti penyebab aksi penembakan tersebut, namun seorang saksi mata yang selamat mengungkapkan ihwal kejadian ketika dua dari sekitar empat orang bersenjata ini memasuki toko dan memaksa pemiliknya segera menyerahkan uang dan perhiasan. "Karena permintaan orang tak dikenal itu diabaikan, seorang di antara pelaku segera mencabut senjata api laras pendek dari balik baju kemudian menembak pemilik toko," katanya (Antara, 11/2). Empat hari kemudian William alias Lion Khai Chun akhirnya menghembuskan nafas terakhir setelah sebelumnya dirawat di Rumah sakit akademis Makassar Sulawesi Selatan.

Motif Kekerasan Bersenjata

Kekerasan bersenjata yang terjadi dalam kurung empat tahun terakhir di Palu adalah untuk menciptakan psikologi teror dan ketegangan sosial antarkelompok. Hal ini ditandai dengan pemilihan target yang mengasosiasikan dengan simbol agama atau kelompok tertentu yang selama ini terlibat atau dilibatkan dalam konflik dan kekerasan di Sulteng.

Pemilihan target itu tentu saja dilandasi dengan argument tertentu dari pelaku kekerasan. Membenturkan dua kelompok dalam pusaran ketegangan diasumsikan akan melahirkan saling sikap antipati antarkelompok. Namun upaya tersebut, sejauh ini belum mampu menyeret masyarakat dalam grand scenario yang sedang dijalankan oleh aktor-aktor kekerasan. Paling tidak di Palu Sulawesi Tengah.


Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen (Pol) Drs. Oegroseno dalam sebuah wawancara dengan Seputar Rakyat mengatakan, motif para teroris di sini (Poso dan Palu:red) sangat berbeda dengan yang ada di Amerika atau luar negeri. Teroris di sana, kata Kapolda, punya misi dan visi yang jelas dalam melakukan aksi-aksinya. Sedangkan teroris di sini visi dan misinya tidak jelas. Kapolda menengarai teroris di sini bukan berasal dari kelompok agama. Alasannya, kata dia, di kelompok agama manapaun tidak membolehkan melakukan pembunuhan. “Mereka ini adalah kelompok animisme. Saya yakin, teroris ini ngga pernah sembayang, ngga pernah shalat kalau orang Islam, atau ke gereja. Ajaran agama mereka ngga ada. Makanya saya katakan ini teroris avonturir, apa sasaran mereka?,” jelas Jebolan Akabri Kepolisian 1978 ini.

Tentu saja aparat keamanan masih sangat sulit untuk mengidentifikasi motif dari para pelaku kekerasan yang terjadi selama ini. Kinerja aparat dalam menangkap dan mengungkap jaringan pelaku penembakan misterius dan pemboman masih mengalami stagnasi. Ada kecenderungan, mereka yang ditangkap selama ini bukan sebagai pelaku atau salah tangkap, karena Polisi tidak bisa mengembangkan hasil penyelidikannya untuk meringkus master mind (baca:dalang) dari kekerasan ini. andi miswar

1 comment:

Kamagra said...

Kinerja aparat dalam menangkap dan mengungkap jaringan pelaku penembakan misterius dan pemboman masih mengalami stagnasi. Ada kecenderungan, mereka yang ditangkap selama ini bukan sebagai pelaku atau salah tangkap