17 October, 2006

Masihkah Pantas Meletakkan Rasa Aman di Pundak Aparat

Aksi Brutal Penembak Misterius di Palu

'Pendeta Kongkoli tertembak mati', sebaris pesan pendek di seluler dikirim kawan saya sesaat setelah saya bangun dari tempat tidur. Jam menunjukkan pukul 10.12 Wita, saya segera bergegas menuju kantor.
Di kantor, kami pun segera terlibat dalam diskusi kecil soal kejadian penembakan misterius yang berlangsung pagi tadi.


Kesucian Bulan Ramadhan sepertinya ternoda dengan insiden penembakan misterius yang menewaskan Pdt Kongkoli [16/10]. Nyawa Kongkoli yang saat ini menjabat Sekretaris Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), Senin pagi sekitar pukul 08:15 Wita, direnggut paksa dua orang tak dikenal saat berada di toko bangunan 'Sinar Sakti' yang terletak di Jalan Wolter Monginsidi No.76 Palu.

Kejadian ini bukan saja melukai perasaan sanak familinya, juga sekaligus menghempaskan kembali rasa aman warga Palu ke titik nol. Provokasi dan terror sepertinya tak kunjung berakhir. Pun dalam bulan yang penuh rahmat.

Entah keyakinan apa yang diwakili pelaku penembakan tersebut. Sebagai seorang muslim, saya sama sekali tidak ingin terwakili aksi konyol itu. Setelah kejadian yang sama berulang, semakin sulit rasanya meletakkan rasa aman dan nyaman di pundak aparat keamanan berikut operasi intelejennya.

Setelah menghubungi sejumlah teman2 jurnalis, saya mendapat kepastian : Pdt Kongkoli yang saat ini menjabat Sekretaris Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), Senin pagi sekitar pukul 08:15 Wita, ditembak dua orang tak dikenal saat berada di toko bangunan "Sinar Sakti" yang terletak di Jalan Wolter Monginsidi No.76 Palu.
Dari portal berita di internet saya menemukan berita tersebut di Antara. Kapolda Sulteng
Brigjen Pol Badrodin Haiti menyatakan bahwa polisi telah mengidentifikasi pelaku penembak Pendeta Irianto Kongkoli (50), setelah memeriksa tiga orang saksi mata. "Polisi sudah mengantongi identitas pelaku," kata dia di RSU WoodWard Palu, tempat jenazah Pendeta Kongkoli dievakuasi, seperti dikutip ANTARA.

Berikut kutipan lengkap beritanya :

Penembak Pendeta Kongkoli Teridentifikasi

Palu (ANTARA News) - Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) Brigjen Pol Badrodin Haiti menyatakan bahwa polisi telah mengidentifikasi pelaku penembak Pendeta Irianto Kongkoli (50), setelah memeriksa tiga orang saksi mata.
"Polisi sudah mengantongi identitas pelaku," kata dia di RSU WoodWard Palu, tempat jenazah Pendeta Kongkoli dievakuasi, Senin
Menurut Kapolda Haiti, pelaku berjumlah dua orang dan mengenakan penutup wajah saat beraksi. Pelaku melarikan diri dengan menggunakan sepeda motor jenis bebek warna hitam usai menembak korbannya.
"Sekalipun memakai penutup wajah, pelaku berhasil diidentifikasi," tuturnya tanpa menjelaskan lebih rinci.
Jalan Wolter Monginsidi sempat ditutup sekitar empat jam untuk memberi kesempatan kepada tim identifikasi melakukan oleh TKP.
Pdt Kongkoli yang saat ini menjabat Sekretaris Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), Senin pagi sekitar pukul 08:15 Wita, ditembak oleh dua orang tak dikenal saat berada di toko bangunan "Sinar Sakti" yang terletak di Jalan Wolter
Monginsidi No.76 Palu.
Saat insiden terjadi, Kongkoli ditemani istrinya, Ny. Rita Kupa (45), dan anak angkatnya, Gea (4). Namun, Rita dan Gea lolos dari maut karena ke luar dari toko, langsung menuju mobil pribadi mereka yang di parkir di pinggir jalan depan toko.
Sementara langkah Kongkoli terhenti karena tertarik melihat pajangan keramik berada di depan pintu masuk toko. Tujuan Kongkoli dan istrinya ke toko bangunan memang untuk mencari keramik guna dipasang di rumah mereka yang sedang direhabilitasi.
"Saat menatap pajangan keramik itulah Kongkoli ditembak di bagian kepala dari jarak dekat," kata Anton, sahabat Kongkoli, mengutip pernyataan Ny. Rita.
Kongkoli jatuh tersungkur bersimbah darah. Sementara istri korban, Ny. Rita, yang juga berprofesi sebagai polisi dengan pangkat Iptu dan dibantu beberapa warga setempat segera mengevakuasi korban ke RSU Woodward, berjarak sekitar 500 meter dari lokasi kejadian.
Jiwa Kongkoli tidak tertolong akibat pendarahan. Ia menghembuskan nafas terakhir di ruang unit gawat darurat RSU Woodward milik Yayasan Bala Keselamatan Palu, dalam pangkuan Rita istri yang setia mendampingi sekitar 20 tahun perjalanan hidupnya.
Kongkoli yang separuh hidupnya diabadikan melayani Jemaat Kristiani ini meninggalkan seorang istri, dua anak kandung, Gita (18) dan Ade (14), dan seorang anak angkat Gea (4).
Hingga berita ini diturunkan, jenazah Kongkoli telah dipindahkan ke kamar jenazah untuk kepentingan otopsi mengeluarkan proyektil yang masih bersarang di kepalanya.(*)

1 comment:

Dedi said...

Yang ada hanya harap diatas nestapa...