07 December, 2010

Menikmati “Sepotong Surga” di Bibir Teluk Palu

Aroma laut yang berhembus bersama angin, membelai wajahku sore itu. Riak ombak tak begitu besar, namun terdengar iramanya memecah di tanggul.

Saya mencoba serileks mungkin dengan menyandarkan kepala pada kursi plastik biru. Ya, pantai Talise, tempat yang tak pernah membosankan untuk melepaskan penat dan rantai rutinitas. Melihat gunung dan pantai dalam waktu yang elementer menimbulkan sensasi tersendiri.

Landskap alami itu dipermanis dengan kehadiran sebuah jembatan berwarna kuning yang membentang di atas hulu sungai Palu. Sebuah kombinasi yang mengundang decak kagum. Wallpaper yang biasa ditemui di layar komputer, kini ada di depan mata. Nyata!...


Seorang kawan kepada saya pernah mengatakan: Jika ingin gebetan anda jatuh cinta, bawalah ke pantai Talise saat matahari terbenam dan nyatakan perasaaan anda kepadanya. “Saya sangat yakin dia akan jatuh cinta kepada anda dalam suasana itu,” sarannya dengan yakin. Saya hanya mengiyakan dalam hati kala itu.
Sembari menyeruput secangkir sarabba (air jahe dicampur sedikit santan dan susu) di bawah langit senja yang berwarna jingga, saya menyantap jagung bakar yang dioles mentega. Sore yang sempurna untukku.

Semakin sore, pengunjung kian bertambah. Mulai dari pasangan muda-mudi, mahasiswa yang pulang dari kampus, suami isteri dan anaknya serta pekerja yang pulang sore. Mereka tumplek sepanjang pantai Talise untuk sekedar menikmati pemandangan ataupun mencicipi menu yang disediakan cafe gerobak di sepanjang pantai.

Mulai dari jagung bakar, pisang goreng, pisang gepe sampai minuman penambah energi. Semuanya tersedia di kawasan itu.Tak salah jika ini menjadi tempat favorit warga kota Palu untuk mengisi waktu senggangnya. Jika seseorang menyebut Kota Palu sebagai “sepotong surga di khatulistiwa”, maka kita bisa setuju. Teluk nan elok, gunung yang membujur di Timur dan Barat, lembah dan sungai yang memisahkan wilayah Timur dan Barat bisa menjelaskan “sepotong surga” itu. Walikota Palu Rusdy Mastura menyebut kotanya sebagai sebagai kota tiga dimensi (laut, gunung dan lembah).

Tak jauh dari tempat duduk saya, hanya sekitar 1 kilometer ke arah Barat, terdapat pantai Taman Ria. Tempat ini semakin menarik dan ramai dikunjungi setelah pemerintah kota memperbarui beberapa fasilitas. Diantaranya pengaspalan dan pelebaran jalan, serta pembangunan jembatan Palu IV atau biasa disebut jembatan kuning. Selain menu seperti di Pantai Talise, di kawasan ini juga dijual makanan khas seperti kaledo (sop tulang sapi) yang dimakan dengan singkong atau nasi, uvempoi (kuah asam dari tulang sapi) yang dimakan dengan burasa (nasi santan yang dibungkus daun pisang), dan uta dada (semacam opor ayam).

Di kawasan ini pula, terdapat sebuah restoran yang menyediakan menu yang cukup komplit. Namun, menu favoritnya ikan bakar seperti bubara, kakap merah, baronang, sunu, dan berbagai macam ikan kualitas ekspor lainnya. Walikota Palu dalam satu kesempatan pernah mengatakan, Kawasan Pantai Talise dan Taman Ria yang membuat Kota Palu menjadi indah. “Namun kita tidak punya dana yang besar untuk bisa mengembangkan kawasan ini menjadi tempat wisata modern,” kata Walikota Palu Rusdy Mastura. Namun kata Bung Cudy–sapan akrab Walikota Palu– pihaknya akan mengembangkan kawasan pantai di Kota Palu sebagai tempat wisata malam. “Saya yakin pantai ini akan menjadi tempat yang sangat romantis untuk bersantai bersama keluarga di malam hari,” katanya.

Keyakinan bung Cudy sepertinya akan segera terwujud. Pemerintah pusat akan segera menggelontorkan dana milliaran rupiah melalui inpres percepatan pembangunan untuk revitalisasi teluk Palu. Dengan dana sebesar itu, maka sangat memungkinkan untuk mengembangkan kawasan itu menjadi kawasan wisata modern.
Pengembangan kawasan wisata ini tentu saja akan memicu peningkatan di sektor informal yang mulai menggeliat sejak Walikota Palu mencanangkan kotanya sebagai “Pusat Kebangkitan Ras Melayu, dan sebagai Northern Gate Indonesia (Pintu Utara Indonesia). “Kota ini akan menjadi jendela peradaban bagian Timur Indonesia dengan saudaranya dari ras kuning China,” kata Walikota Palu.

Untuk mengakselerasi gerak maju kota, Pemerintah Kota (Pemkot) Palu telah membentuk Tim Percepatan Pembangunan Kota Palu. Tim pimpinan Dharma Gunawan, ketua Bappeda Kota Palu itu, telah memproklamirkan tujuh program prioritas, yakni percepatan pembangunan Kota Palu dalam kerangka Inpres Percepatan Pembangunan Sulawesi Tengah.
Kemudian Membangun Unit Pelaksana Teknis dan Mendirikan Sekolah Rotan, membangun laboratorium pengembangan teknologi dan budidaya kakao, revitalisasi Teluk Palu, mendorong kemajuan informasi teknologi, membangun kawasan industri, dan melakukan revolusi teknologi melalui Lembaga Pengembangan Teknologi Tepat Guna.

“Prioritas program ini, sebagai implementasi dari menjadikan Kota Palu sebagai northern gate Indonesia menuju kebangkutan peradaban ras melayu,” kata Ketua Tim Percepatan Pembangunan Kota Palu, Dharma Gunawan. Mengenai pentingnya sekolah rotan, karena pemerintah mengharapkan outputnya dapat melahirkan tenaga kerja terampil yang dapat memenuhi pasar kerja. Menurut Andi Mulhanan Tombolotutu, saat ini tidak terjadi keseimbangan. Di satu sisi, luaran dari sekolah umum membludak, tapi di sisi lain pasar kerja mencari tenaga kerja terampil dan mereka tidak menemukannya dari lulusan sekolah umum. “Maka sekolah rotan ini menjadi sangat penting. Ini sekolah kejuruan,” katanya.

Mimpi itu sangat rasional, berdasarkan data dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Penanaman Modal (Disperindagkop-PM) Kota Palu, nilai ekspor rotan polish setiap tahun mengalami penurunan. Makanya, diharapkan ke depan rotan yang diekspor itu harus barang jadi.
Data menyebutkan, tahun 2000 misalnya, nilai ekspor rotan polish mencapai 9.501.085,83 ton, tahun 2001 mencapai 9.245.559,50 ton. Tahun 2003 menurun mnjadi 8.659.554,68 ton, dan tahun 2006 menurun lagi menjadi 267.511,00 ton. .
meski begitu, menurut Ketua DPRD Kota Palu, Andi Mulhanan Tombolotutu , program yang segera direalisasikan adalah setiap kelurahan memiliki sistem mitigasi dan tanggap darurat bencana yang aktif.
Seluruh sentra produksi, industri dan kawasan pemukiman memiliki listrik, telekomunikasi, air bersih, sanitasi, irigasi, drainase, serta transportasi sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Kota. Bebas pencemaran lingkungan dan seluruh limbah diolah menjadi produk bernilai tambah.

Pelabuhan udara,Laut, dan terminal petikemas memenuhi standar nasional serta terintegrasi dengan kawasan industri terpadu. Seluruh wilayah Kota Palu bebas banjir yang diakibatkan oleh meluapmya air sungai. “Kita tidak mau menetapkan program yang muluk-muluk. Saya pikir, program seperti ini sangat rasional dan bisa dilaksanakan dalam beberapa tahun ke depan,” tandasnya.

Matahari semakin condong ke Barat, semburat jingga menggelap berganti kerlip lampu di sepanjang pantai. Sebentar lagi malam menjemput, dua tongkol jagung sudah ludes, secangkir sarabba sudah tandas. Lamat-lamat azan magrib menghilang. Saya pun mengemasi bawaan untuk bergegas pulang. Sore yang terasa singkat namun indah di bibir teluk Palu. Eits, jangan lupa saran kawan saya: buat gebetan anda jatuh cinta di Pantai Talise! Selamat mencoba! :)

No comments: