07 October, 2007

Menggagas Palu Blogger Community

Palu Blogger Community [PBC]. Sekonyong-konyong topik ini menjadi bahasan di milist Kamust[1]. Beberapa blogger partisipan milist memberikan tanggapan positif atas ide itu. Saya pun terpanggil untuk memberikan sepatah kata. Ruslan Sangadji a.k.a Ochan, adalah salahsatu blogger yang paling terobsesi dengan terbentuknya PBC.

Seperti juru kampenya Pilkada, koresponden The Jakarta Post ini sudah mengampanyekan PBC ke seluruh penjuru mata angin [hehehe...dramatis banget]. Seperti iklan coca cola-anytime any where-- begitu Ochan mencoba mengiklan gagasan ini.

Hal menarik--paling tidak menurut saya-- adalah beberapa "pesohor" lokal tertarik dengan gagasan ini. Diantaranya: Rusdy Mastura [Walikota], Mulhanan Tombolotutu [Ketua DPRD] dan Sudaryano Lamangkona [Camat Palu Utara]. Dalam Diskusi Kritis[2] yang digelar Perhimpunan Nasional Aktivis 98 [Pena 98] Sulteng, ketiga orang tadi hadir sebagai pembicara dan peserta. [04/10].

Di sela-sela acara itu, kak Tony-sapaan Akrab Mulhanan--kepada beberapa blogger mengatakan, dirinya siap memfasilitasi terbentuknya Komunitas Blogger Palu. "Silahkan kalian bikin proposal konsepnya, nanti kami coba masukkan ke APBD Kota," kata Politisi dari Partai Golkar ini kepada blogger yang sedang manyantap hidangan buka puasa.

Di tempat yang sama, kak Cudy --begitu Rusdy Mastura biasa disapa--juga mendorong terbentuknya komunitas ini. Malah dia merencanakan akan membuat hotspot di Taman GOR [3] kota Palu. "Supaya orang Palu bisa mengkases internet secara gratis," sembari melanjutkan bahwa saat ini ada investor dari Korea yang ingin membantu pemerintah Kota palu membangun jaringan internet.


Kembali ke bahasan awal di atas. Saya pun mereply sebuah postingan dari Abdy Mari. Berikut potongannya:
"...Usul dan pemikiran untuk membentuk Palu Blogger Community haruslah segera direalisasikan.. Saya berbincang-bincang dengan rekan Andi Mizwar Arman, katanya kita harus ngumpul dulu membicarakan visi kita nanti apa??..
Olehnya, ada undangan khusus para blogger Palu untuk hadir di Palu Golden Hotel Tgl 4 Oktober 2008 jam 4. Usai acara Reduksi Saham Mall Tatura, para blogger Palu berdiskusi membicarakan wadah ini.. berimba tuakaaaaaaaa!!!....."

Berikut postingan saya menjawab Abdy:
Rekans

Komunitas Blogger Palu. Menurutku ini ide yg sangat positif untuk segera direalisasikan. IMHO, ada beberapa alasan yang bisa menjadi landasan kita:

1. Trend media mainstream [terutama lokal] yang sedikit memberikan ruang bagi perspektif yang berbeda dengan kebijakan [kepentingan] owner institusi berita tsb.
Sebagai contoh teranyar: Kontroversi Reduksi Saham Mall Tatura. Topik Ini menjadi headline di salah satu Surat Kabar Harian (SKH) di Sulteng sejak edisi 12 Juli 2007 hingga 29 September 2007. Ada 24 item berita terkait kontroversi itu.
Secara kuantitas, SKH ini terkesan memberikan perhatian khusus. Dari Total 24 berita tersebut, walaupun SKH ini "berupaya" memberikan kesan coverboth side, namun itu tidak cukup untuk disebut berimbang.
Hal mengesankan bahwa SKH ini berupaya menggiring sebuah maklumat kepada publik: Reduksi mall Tatura oleh pemkot adalah sebuah mudharat. Kelompok independen pun mulai terlibat atau dilibatkan untuk memperkuat skenario [kalu boleh disebut begitu].
Berbekal informasi dan data secukupnya, komentar pun bersiilweran. Saya pun terhenyak menyaksikan "perang" ini. Pada saat yang elementer, Kelompok yang berkepentingan langsung dengan mall [penyewa, pengunjung, manajemen] sepertinya tidak mendapat kesempatan mengapresiasikan pendapatnya. Salahsatu kawan saya yang jebolan analisis property magister UGM mencoba mengirimkan sebuah artikelnya. Dalam penilaian saya, selain karena kompetensi disiplin ilmunya, dari segi lain cukup objektif untuk dimuat dalam sebuah media lokal. Namun karena cenderung bersebrangan dengan skenario SKH, maka artikel ini tidak mendapat tempat. Saya pikir rekans masih punya daftar yang lebih panjang atas kecenderungan media mainstream lokal.
Moralnya: Media mainstream belum bisa melepaskan diri dari kepentingan owner atau segala muslihat haram jadah [maaf] dan persekongkolan.

2. Dengan menularnya blogger secara massif, maka memungkinkan siapa saja menjadi pewarta dengan perspektif yang sejauh ini tidak mendapat ruang di media mainstream . Kita bisa menengok Lily Yulianti yang membidani lahirnya www.panyingkul.com. Proyek jurnalisme warga [citizen journalism] yang berbasis di makassar berhasil mengajak orang-orang biasa menjadi pewarta. Di situs itu [tanpa maksud promosi] kita bisa membaca reportase yang aktraktif, sederhana tanpa skenario tertentu. Selain www.panyingkul.com, ada pula www.halamansatu.ne, www.wikimu.com, www.sumbawanews.com dan www.kabarindonesia. com yang dikelola dari Belanda.
Seorang ibu rumah tangga menjadi pewarta? Sangat mungkin kata Lily yang pernah menajadi pewarta di Kompas 1996-2000, Radio Australia di Melbourne 2001-2004, dan NHK di Tokyo 2004-sekarang.

3. Komunitas Blogger Palu bisa menjadi persimpangan yang memungkinkan mempertemukan dan memformulasi ide/gagasan seorang politisi yang diwakili Bung Cudy, Kak Tony, Sudaryano dari birokrat muda, kawan2 wartawan, penggiat Ornop, ataupun pelaku bisnis yang punya akses ke internet.

4. Sebagai media informasi alternatif bagi siapa saja yang berada di luar kota Palu untuk mengetahui perkembangan dan dinamika kota dari sudut pandang yang beragam [multi perpektif]. DEngan ini, mereka bisa menganalisis dan memberikan sumbang pikiran yang mungkin bisa diadaptasi dalam pengambilan kebijakan di level eksekutif dan legislatif. Faktanya, kontribusi pemikiran rekans yang terlibat di millist telah mewarnai diskursus pembangunan kota Palu. Dan itu pada saat rekans tidak sedang berada di Palu/Sulteng.

5. Mungkin bisa mendorong terciptanya e-goverment yang selama ini menjadi obsesi kita.

Demikian opini sederhana saya menanggapi gagasan komunitas blogger Palu.

Salam hangat
andi miswar


catatan kaki
[1]. Kamust : Akronim dari Kaum Muda Sulteng. Sebuah millist yang dikelola oleh beberapa kaum muda yang berasal dari Sulteng di Jakarta. Anggota Millist ini tersebar di sejumlah tempat di belahan dunia dengan baragam profesi. Salahsatu petinggi di republik ini yang bergabung adalah Adhyaksa Daud [Menteri Pemuda & Olahraga] yang lahir di Donggala, Sulawesi Tengah
[2] Diskusi Kritis: Diskusi yang dirangkaikan dengan buka pusa bersamauntuk membahas sebuah kontroversi tentang Reduksi Saham Mall Tatura dari PT Citra Nuansa Elok [PT CNE] oleh Pemerintah Kota. Dilaksanakan di Palu Golden Hotel Palu, Rabu 04 Okt. 2007.
[3] Taman GOR Kota: Sebuah ruang publik yang berada di jantung kota Palu--Ibukota Sulteng. Taman ini adalah salah satu pilihan warga kota untuk menggelar berbagai acara seperti pagelaran seni dan olahraga [basket & takraw]

Read more...

24 August, 2007

Rokok VS Media Massa

Catatan dari Pelatihan Jurnalistik

SABAM Leo Batubara. Lelaki paruh baya ini selalu menjadi inspirasi bagi banyak kuli tinta untuk menghasilkan karya jurnalistik yang bermutu. Bicaranya lugas, wawasannya luas. Wakil ketua Dewan Pers ini hadir di Palu menjadi narasumber pelatihan pers tingkat madya yang berlangsung selama dua hari (21-22/08) di Hotel Nisfa Palu. Sebelumnya, Leo kerap kali menyambangi Palu mewakili Dewan Pers Nasional untuk urusan peningkatan kualitas jurnalis di daerah....


Adalah Serikat Kolumnis Palu (SKOP) ---dimana saya menjadi sekretaris--mendaulat saya untuk menjadi moderator mendampingi Leo Batubara dan Supardi Ibrahim. Kurang lebih dua jam, Leo memberikan pencerahan bagi 40-an peserta yang berasal dari berbagai media cetak dan elektronik lokal di Sulawesi Tengah. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama SKOP dan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah.

Menurut Alumnus IKIP Negeri Jakarta tahun 1970 ini, Pergulatan memerdekakan pers amat melelahkan dan menelan korban. Ratusan penerbitan pers dibredel. Puluhan wartawan dibui. Ketika penguasa Orde Baru tumbang, gerakan reformasi berembus. Aktivis prodemokrasi dan pegiat pers merdeka bangkit dari posisi tiarap.
Tantangan Pers Kekinian

Masih dalam pelatihan itu, Leo yang juga Ketua Badan Pengurus Serikat Penerbit Suratkabar menjelaskan, (SPS) kini, sekitar 30 persen dari 829 media cetak meraih bisnis yang sehat, tiras dan jumlah halamannya meningkat. Media itu tersebar di 33 provinsi, terbit sebagai pers daerah, media lokal, dan media komunitas. Sebagian dari pers sehat bisnis itu dikontribusi surat kabar berkategori quality media. Media ini kian maju dan berkembang.

Media ini mampu menghasilkan produk pers yang (1) atraktif; (2) mencerahkan; (3) taat kode etik jurnalistik; dan (4) dibutuhkan khalayak (pembaca dan pengiklan). Jumlah quality media itu minoritas dari segi jumlah perusahaan. Namun, mayoritas dari 7,2 juta tiras milik mereka.
Perkembangan pers di era reformasi ini bukan tanpa masalah. Sekitar 70 persen media cetak berkategori belum sehat bisnis. Tantangan yang dihadapi (1) jumlah modal tidak mencukupi; (2) wartawan profesional tidak tersedia di pasar kerja sehingga mempekerjakan wartawan yang tidak memenuhi syarat; (3) sering melanggar kode etik jurnalistik; (4) tidak mampu membuat medianya dibutuhkan pembaca dan pengiklan. Dari sisi profesionalitas, sebagian dari media tidak sehat bisnis itu semestinya menghentikan penerbitan. Namun, Pasal 28 konstitusi melindungi keberadaannya.

Mantan pemimpin perusahaan harian Suara Karya ini menilai, 70 persen surat kabar yang ada di Indonesia sudah tidak layak secara bisnis karena minimnya tiras (oplah) dan minimnya pemasukan iklan.

Bahkan, dari 30 persen sisanya yang layak, menurut dia, yang bisa disebut benar-benar layak dan sehat secara bisnis hanya beberapa perusahaan.
Menurut dia, mayoritas surat kabar itu gagal menciptakan kebutuhan pasar karena sebenarnya masyarakat memiliki daya beli yang cukup tinggi. Ceruk pasar di Indonesia juga masih cukup besar.
Indonesia saat ini memiliki 828 surat kabar dengan penetrasi mencapai 7,2 juta eksemplar per hari. "Jumlah tersebut tidak ideal untuk penduduk Indonesia, yang kini sudah menembus angka 250 juta orang," ujarnya.

Padahal penetrasi surat kabar dengan jumlah penduduk di negara berkembang yang ideal adalah 1 : 10. Prestasi Indonesia tertinggal jauh dari negara tetangga, seperti Singapura (1 : 2,8), Malaysia (1 : 8), dan Jepang (1 : 1,8).
Sedangkan dari sisi konsumsi, menurut dia, pengeluaran masyarakat terhadap media cetak nasional baru mencapai Rp 4,9 triliun. Bandingkan dengan konsumsi masyarakat untuk industri rokok, yang mencapai Rp 150 triliun.

Padahal, Koordinator Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI) ini menambahkan, pasar surat kabar itu sebenarnya bisa diciptakan asalkan industri menampilkan berita yang atraktif, mencerahkan, taat pada kode etik jurnalistik, serta mampu melayani kebutuhan masyarakat.

Karena itu, dia optimistis industri surat kabar masih memiliki peluang untuk berkembang. Apalagi belanja iklan untuk surat kabar dalam tiga tahun terakhir selalu meningkat.
Berdasarkan survei Nielsen Media Research, belanja iklan surat kabar pada 2006 mencapai Rp 8 triliun atau naik 23 persen dari tahun sebelumnya. Angka pertumbuhan belanja iklan untuk surat kabar ini paling tinggi dibandingkan dengan belanja iklan di media lain, seperti televisi dan majalah.

Read more...

30 June, 2007

KIP MUSPROP KNPI: Membuat KNPI Semakin Menarik

Langgam kekuasaan Orde Baru yang gembar-gembor soal pembangunan dan mengajak peran pemuda untuk menyukseskan pembangunan memang mulus dijalankan dengan membentuk KNPI. Hubungan harmonis KNPI dengan pemerintah tidak berbuah manis karena justru tidak mengenakkan.
KIP Musprop KNPI: Membuat KNPI Semakin Menarik

Langgam kekuasaan Orde Baru yang gembar-gembor soal pembangunan dan mengajak peran pemuda untuk menyukseskan pembangunan memang mulus dijalankan dengan membentuk KNPI.Hubungan harmonis KNPI.dengan pemerintah tidak berbuah manis karena justru tidak mengenakkan. Sebab, KNPI tiba-tiba menjadi bemper pemerintah hingga akhirnya tudingan ormas pelat kuning tak terelakkan.
Parahnya lagi, KNPI menjadi semacam tangga bagi para politikus muda untuk terjun ke pemerintahan (menjadi pejabat). Kenyataan itu terus ada hingga sekarang dengan duduknya mantan Ketua KNPI Adyaksa Dault menjadi Menpora dalam Kabinet Indonesia Bersatu.
Dengan demikian, gerakan KNPI, baik di era pemerintahan Orba maupun sekarang, nyaris masih terjebak dalam model mendukung pemerintah. Akibatnya, langkah yang diambil KNPI tidak begitu populer di kalangan anak muda, terlebih para mahasiswa, apalagi Ornop (organisasi Non Pemerintah).
Ketika ormas-ormas mahasiswa ramai-ramai turun ke jalan menentang kebijakan pemerintah yang dinilai tidak adil bagi rakyat, dalam berbagai kesempatan, KNPI seolah menutup mata melihat berbagai kebijakan pemerintah yang keliru.
Sumbangan minim KNPI bagi bangsa inilah yang seharusnya membuat kita gelisah. Padahal, KNPI sebagai induk organisasi terbesar di tanah air, bahkan memiliki struktur organisasi sampai tingkat kabupaten, idealnya mampu menjadi motor penggerak yang turut serta menentukan arah bangsa.
Itulah yang kurang di KNPI. Mereka belum mampu menyentuh persoalan-persoalan riil bangsa ini. Padahal, generasi muda kita saat ini bukan saja dijejali berbagai macam ideologi yang cenderung menyesatkan, tapi juga dihadapkan pada persoalan yang lebih global, seperti seks bebas, narkoba, dan kejahatan terorganisasi lainnya.

Pergeseran Paradigma
Mencermati kecenderungan dalam kurun beberapa tahun terakhir, khususnya di Sulawesi Tengah, pemuda yang tergabung dalam KNPI mulai menunjukkan empati terhadap gerakan moral yang sedang berjalan.
Model gerakan generasi muda sekarang perlu dimantapkan kembali sesuai semangat pemuda sebelumnya. Pemuda pada 1908 mampu melahirkan kebangkitan nasional, 1928 melahirkan sumpah pemuda, 1966 menegakkan kedaulatan negara, 1973 membuat Deklarasi Pemuda dan 1999 dengan semangat gigih menegakkan demokrasi, keadilan dan supremasi hukum.
Transformasi gerakan moral KNPI di masa mendatang adalah mewujudkan generasi muda yang ramah dan tanggap terhadap fenomena sosial dengan Iandasan akhlak mulia.
Prototipe yang dikembangkan oleh KNPI didasarkan pada semangat kejuangan dan keinginan berdirinya negara republik yang kaya kemajemukan dan miskin peperangan. Ini dijalankan sesuai amanat organisasi KNPI dalam menumbuhkan, menggerakkan serta menyalurkan dinamika, militansi dan idealisme pemuda Indonesia.
Kondisi ini seharusnya berada pada titik maju dalam rentang waktu ke depan. Praktek-praktek penyelenggaraan organisasi yang cenderung destruktif dan merusak image organisasi ini seharusnya segera ditinggalkan, paling tidak diminimalisir.

Musprop Ajang Akrobat
Bukan rahasia umum lagi, pergantian pucuk pimpinan dari tingkat pusat hingga daerah selalu diwarnai dengan praktek money politic, premanisme dan intervensi birokrat.
Kecenderungan ini akan mencitrakan KNPI sebagai wadah berkumpul para broker dan avonturir politik yang sangat bergantung pada uang dan kekuasaan.
Terkait dengan rencana Musyawarah Provinsi yang akan digelar di penghujung tahun 2007, maka penting sekali untuk menggagas sebuah wadah yang secara moral bertanggungjawab untuk mengawal citra yang telah terbangun dalam kurun beberapa tahun terkahir.
Pencitraan KNPI sebagai lembaga independen dan laboratorium kader pemimpin masa depan daerah akan semakin mengkilap jika Musprop KNPI bisa berlangsung secara fair dan demokratis tanpa praktek money politic dan premanisme.
Dalam kerangka tersebut, beberapa pentolan dan pemerhati KNPI menggagas Komite Independen Pemantau Musyawarah Provinsi (KIP Musprop KNPI). Komite ini akan memperjuangkan tiga agenda penting yaitu: Membuka seluas mungkin kompetisi pemuda dalam dalam Musprop; Konsistensi Musprop terhadap AD/ART dan Peraturan KNPI dan Melawan segala bentuk praktek money politic dalam Musprop.
Dengan tiga agenda ini, maka harapan untuk menemukan pemimpin baru yang legitimate dan berdaya saing akan semakin terbuka. Dengan demikian kita telah membangun sebuah peradaban demokrasi.

Deklarator
J. Parampasi, Yahdi Basma, Abubakar Hadado
Andi Miswar Arman, Ashar Yahya, Salehuddin Awal
Husen Idrus Alhabsy, Naharudin A Gani, Yanes



Read more...

BERMULA DARI WARKOP

Warung Kopi (Warkop) selalu saja menjadi tempat yang nyaman untuk melepas penat sekaligus membincang aneka hal dan peristiwa. Tak sedikit, hal-hal besar diaduk dari Warkop pinggir jalan. Banyak masalah menemukan solusi di sini. Sejatinya, warkop adalah dunia sekelompok orang mensosialisasikan diri dan gagasannya...

BERMULA DARI WARKOP
Warung Kopi (Warkop) selalu saja menjadi tempat yang nyaman untuk melepas penat sekaligus membincang aneka hal dan peristiwa. Tak sedikit, hal-hal besar diaduk dari Warkop pinggir jalan. Banyak masalah menemukan solusi di sini. Sejatinya, warkop adalah dunia sekelompok orang mensosialisasikan diri dan gagasannya. Berawal dari Warkop pula, gagasan untuk membentuk sebuah Komite Independen Pemantau Musyawarah Propinsi KNPI (KIP Musprop KNPI) tercetus. Seperti virus, ide ini menjadi bahan diskusi di kalangan pe-warkop khususnya Warkop di bilangan Wahidin yang banyak ditongkrongi anggota& pengurus KNPI Sulteng. Walaupun Musprop KNPI akan digelar pada akhir tahun, namun sudah menjadi perbincangan di setiap saat, khususnya di kalangan anggota dan pengurus KNPI Sulteng. Sebagai sebuah gagasan, KIP Musprop ini masih debatable. Namun sejumlah pihak menilai ide ini sebagai sebuah langkah maju dalam tradisi Musprop, khususnya di Sulteng. Ketua DPD KNPI secara pribadi menilai ide ini menarik dan perlu disupport. Dalam kerangka inilah, sejumlah pentolan KNPI kemudian menerbitkan sebuah media sederhana (Koran Kecil) untuk mensosialisasikan ide dan gagasan tersebut secara massif.

Read more...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP